Neil Rimer: Uang AI Siap ‘Dikembalikan’ ke Masyarakat? Ini Penjelasannya!

Neil Rimer: Uang AI Siap ‘Dikembalikan’ ke Masyarakat? Ini Penjelasannya!

Di penghujung Mei, Neil Rimer mengungkapkan pandangannya mengenai kekayaan yang berkumpul di sekitar teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam sebuah wawancara di Athena. Rimer, yang merupakan salah satu pendiri Index Ventures, sebuah perusahaan modal ventura terkemuka, menyatakan keyakinannya bahwa akan ada semacam redistribusi kekayaan. Ia berujar, “Ini bisa dilakukan secara sukarela atau tidak, tapi akan terjadi. Saya berharap itu bersifat sukarela,” sambil menambahkan bahwa pemimpin teknologi memiliki peran penting dalam proses ini.

Banyak yang mungkin menganggap pernyataan tersebut sebagai populisme biasa. Namun, mengingat Rimer adalah tokoh dengan pengaruh di dunia investasi, pernyataannya terasa mencolok. Sejak mundur dari investasi sehari-hari pada 2021, Rimer lebih banyak menghabiskan waktu di Athena, tempat asal istrinya, sembari menikmati kehidupan santai dengan penampilan yang jauh dari formal.

Tak bisa dipungkiri, hasil investasi Index Ventures dalam beberapa tahun terakhir sangat mengesankan. Perusahaan ini telah mengumpulkan sekitar Rp 225 triliun dari para investor luar sejak berdiri. Tahun lalu, beberapa keberhasilan besar seperti IPO Figma dan akuisisi Google terhadap perusahaan keamanan siber Wiz dilaporkan telah menghasilkan keuntungan sekitar Rp 140 triliun bagi Index.

Rimer juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia menjabat di dewan Endeavor Greece yang berfokus mendampingi pengusaha di pasar berkembang, serta memimpin dewan Human Rights Watch dari 2019 hingga 2025. Pada akhir 2021, ia bersama keluarganya menyumbangkan Rp 195 miliar untuk renovasi gedung di Universitas McGill dan mendirikan Institut Penelitian dan Pengetahuan Pribumi.

Pernyata, komentar Rimer tentang redistribusi ini muncul pada saat yang kurang tepat dalam konteks filantropi. Inisiatif Giving Pledge yang diluncurkan oleh Warren Buffett dan Bill Gates pada 2010, yang mengajak miliarder untuk menyumbangkan setengah dari kekayaan mereka, kini terasa semakin tidak relevan. Data dari New York Times menunjukkan bahwa hanya ada empat keluarga yang menandatangani kesepakatan ini sepanjang tahun 2024.

Pola penurunan ini juga mencerminkan tren dalam sumbangan amal di AS. Total sumbangan amal di negara itu mencatat rekor Rp 9.300 triliun pada 2024, tetapi jumlah orang yang memberikan sumbangan menurun selama lima tahun berturut-turut. Menurut Stanford Social Innovation Review, pada tahun 2000, dua pertiga rumah tangga memberikan sumbangan, sementara saat ini hanya sekitar setengahnya.

Dalam konteks investasi, Index Ventures juga mengalami hal yang sama. Sebuah laporan dari Business Insider menyebutkan bahwa banyak karyawan baru yang kaya dari Anthropic tidak merencanakan untuk menyumbangkan kekayaan mereka. Meskipun perusahaan tersebut mencocokkan sumbangan karyawan hingga 25% dari ekuitas mereka, mayoritas lebih memilih fokus pada investasi pribadi ketimbang filantropi.

Tidak mengherankan, kurangnya sumbangan sukarela ini kini dihadapkan pada upaya legislasi. Pemilih di California diperkirakan akan memberikan suara mengenai pajak kekayaan 5% yang ditujukan untuk miliarder di negara bagian itu. Beberapa miliarder, termasuk pendiri Google, telah pindah dari California untuk menghindari pajak tersebut.

Sementara itu, OpenAI dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk go public pada tahun 2027. Jika pajak tersebut diterapkan, perkiraan kekayaan akan didasarkan pada aset global individu pada akhir tahun. Penolakan terhadap langkah redistribusi kekayaan ini datang dari banyak pihak, termasuk Gubernur California dan ekonom yang mengklaim bahwa banyak negara maju telah mencabut pajak kekayaan sejenis sejak tahun 1990.

Alternatif yang lebih kontroversial juga muncul. OpenAI dikabarkan telah membahas ide memberikan 5% saham kepada pemerintah federal sebagai cara berbagi keuntungan AI dengan masyarakat. Namun, banyak yang melihatnya sebagai upaya untuk mendapatkan dukungan politik di Washington.

Kekayaan yang tidak terkolong dalam mekanisme ini cukup signifikan. Elon Musk baru-baru ini menjadi orang pertama yang mencapai kekayaan lebih dari Rp 15.000 triliun setelah IPO SpaceX. Forbes melaporkan bahwa terdapat 45 miliarder baru di dunia AI pada 2026, yang totalnya bernilai sekitar Rp 43.000 triliun. Ini juga mencakup potensi kekayaan karyawan Anthropic dan OpenAI yang dapat membeli sepertiga dari semua rumah di area metropolitan San Francisco.

Rimer menekankan pentingnya pilihan antara redistribusi sukarela dan paksa. Dia mengingatkan sejarah ketika kekayaan AS sangat terkonsentrasi pada akhir abad ke-19. Andrew Carnegie, seorang raksasa industri, mempublikasikan esai yang menyerukan agar orang kaya menjalankan tanggung jawab sosial mereka sebelum meninggalkan dunia ini. Sejak saat itu, banyak langkah diambil untuk mencegah pengumpulan kekayaan yang menyimpang.

Apa yang menjadi sorotan Rimer adalah moralitas di balik perusahaan-perusahaan teknologi. Ia mengingat masa-masa ketika pendiri Apple dianggap sebagai pahlawan karena menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun kini, ia mendengar putra-putrinya berbicara tentang perusahaan-perusahaan teknologi dengan nada yang mirip generasi sebelumnya saat membahas kontraktor pertahanan atau pembuat rokok.

Rimer mengharapkan bahwa penerima manfaat dari kekayaan yang melimpah ini akan memilih untuk memberikan kembali kepada masyarakat, sehingga tidak perlu terjadi redistribusi paksa. Dia optimis bahwa pilihan yang lebih mudah akan diambil sebelum waktu menentukan langkah berikutnya.

About The Author

Leave a Reply