AI

AI Menjadi Teman Berbicara untuk yang Berduka: Ditemukan Lebih Disukai daripada Realita

AI Menjadi Teman Berbicara untuk yang Berduka: Ditemukan Lebih Disukai daripada Realita

Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Colorado Boulder mengungkapkan bahwa orang yang sedang berduka lebih memilih chatbot AI yang berbicara seperti orang yang telah meninggal ketimbang yang sekadar menggambarkan mereka. Para peneliti menyebut chatbot tersebut sebagai “hantu generatif.” Temuan ini menunjukkan banyaknya emosional yang terlibat dalam interaksi dengan versi virtual dari orang yang sudah tiada.

Dalam studi ini, para peserta berusia antara 22 hingga 50 tahun diminta untuk berinteraksi dengan dua versi chatbot yang meniru sosok tercinta mereka. Versi pertama menggunakan sudut pandang orang pertama, memberi kesan seolah-olah jiwa orang yang sudah meninggal berbicara langsung kepada mereka. Versi kedua hanya merepresentasikan sosok tersebut dari sudut pandang orang ketiga, layaknya seorang narator.

Hasilnya menunjukkan bahwa mode “reinkarnasi” lebih disukai karena memberikan rasa nyaman yang lebih dalam meskipun pengguna sadar akan risiko emosional dari ketergantungan berlebihan. Salah satu peserta, yang disebut sebagai P4, mengatakan, “Dalam mode [reinkarnasi], saya merasa mendapatkan penutupan yang sangat saya butuhkan.” Namun, tidak semua peserta merasa tenang, ada yang seperti P11 yang khawatir tentang ketergantungan terhadap suara yang mereka dengar, menyerupai perasaan jatuh cinta dengan karakter AI.

Kedua versi chatbot ini bukan hanya dianggap dari akurasi faktual, tetapi lebih kepada bagaimana nada dan pilihan kata yang mereka gunakan dapat “merasakan” dengan tepat secara emosional. Beberapa peserta bahkan sering berbicara kepada chatbot satu arah seolah-olah itu benar-benar orang yang mereka cintai, meski sebenarnya mereka tahu perbedaan antara keduanya.

Tim peneliti mengakui bahwa temuan ini memiliki keterbatasan, terutama karena jumlah peserta yang digunakan dalam penelitian ini terbilang kecil. Hasil penelitian ini belum tentu mencakup seluruh pandangan budaya, agama, dan individu tentang berduka dan teknologi. Praktik berkabung pun bervariasi tergantung komunitas, yang dapat mempengaruhi respon terhadap alat ini.

Para peneliti menekankan bahwa pengembangan lebih lanjut dari sistem ini perlu mempertimbangkan manfaat emosional yang mungkin didapat sebanding dengan risiko kecanduan yang mungkin terjadi. Mereka juga meminta agar ada pertimbangan serius tentang persetujuan dan pengawasan keluarga sebelum alat ini digunakan oleh orang yang sedang berduka.

About The Author

Leave a Reply