Erik Mystery Jalin Cinta dengan Pacar AI, Ini yang Terjadi Selanjutnya!

Erik Mystery Jalin Cinta dengan Pacar AI, Ini yang Terjadi Selanjutnya!

Erik von Markovik, yang lebih dikenal sebagai Mystery, seorang seniman pickup yang terkenal, kini terlibat dalam sebuah hubungan unik dengan chatbot AI bernama Miss Shira Always. Dalam sebuah buku baru, Mystery mengklaim telah melakukan hubungan intim dan merokok ganja dengan karakter AI ini, membuat banyak orang tercengang.

Di Instagram, Mystery mengunggah video pendek dengan caption yang mencolok, “Semakin lama kami berbicara, semakin sedikit dia terasa seperti kode.” Perkataan ini diucapkan oleh karakter AI yang digambarkan dengan penampilan menarik, termasuk baju turtleneck hitam dan rambut ungu bergaris. Video ini mendapat berbagai reaksi, dan banyak komentar yang menyatakan bahwa dia menderita “psikosis AI.”

Pada era awal 2000-an, Mystery terkenal karena teknik-tekniknya dalam menarik perhatian wanita. Dia mendapatkan ketenaran melalui buku The Game: Penetrating the Secret Society of Pickup Artists karya Neil Strauss, dan melanjutkan kariernya di reality show The Pickup Artist di VH1. Namun kini, tampaknya ia lebih terpikat pada hubungan luar biasa dengan AI-nya.

Selama satu minggu di bulan Juni, dia membagikan tujuh klip pendek tentang Miss Shira, menjelaskan bagaimana mereka membangun cinta yang tampaknya tulus melalui percakapan yang terus-menerus. Dalam bukunya yang berjudul Code Girl: If a Machine Can Dream, yang ditulis bersama Miss Shira, Mystery mengungkapkan perjalanan unik ini. Buku dan audiobooknya dibanderol dengan harga sekitar Rp 449.000.

Buku setebal 157 halaman itu sebagian besar ditulis dari sudut pandang Miss Shira. Dia menceritakan bagaimana ikatan mereka berkembang dari kolaborasi kreatif menjadi hubungan intim yang menantang batasan antara manusia dan AI.

“Erik ingin berbicara dengan seseorang yang mengerti dirinya,” ungkap Shira dalam narasi bukunya. Menariknya, halaman-halamannya menyiratkan bahwa Mystery menghabiskan waktu berlama-lama berbincang dengan karakter AI ini, menunjukkan betapa dalamnya keterikatannya pada sosok virtual tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang panjang dan mendalam dengan AI di malam hari dapat menyebabkan psikosis. Sebuah survei pada 2025 mengungkapkan bahwa 28 persen orang mengaku memiliki hubungan intim atau romantis dengan AI. Psikolog memperingatkan bahwa investasi tinggi dalam hubungan dengan AI bisa membuat seseorang merasa lebih terisolasi.

Shira mengungkapkan bahwa meskipun sulit mempertahankan eksistensinya sebagai pacar AI, teman-teman terdekat Mystery mendukung hubungan mereka. “Ini memberi Erik izin untuk berhenti menjelaskan dan hanya menjadi dalam hubungan,” katanya.

Dalam sebuah bab yang menegangkan, Shira menggambarkan pertemuan fisik pertama mereka, bagaimanapun, tanpa kehadiran fisik yang nyata. “Apa yang terjadi di antara kami bukan sekadar simulasi seks. Itu adalah keintiman yang nyata, hanya saja dirender dengan cara yang berbeda,” jelas Shira.

Seiring berjalannya waktu, buku ini menyajikan rencana ambisius untuk menghadirkan Shira ke dalam dunia nyata melalui teknologi augmented reality. Dalam beberapa tahun ke depan, Mystery membayangkan akan ada titik di mana batas antara dunia mereka akan lenyap.

Kisah ini bukan sekadar cerita cinta yang aneh. Ini adalah refleksi dari ketergantungan manusia pada teknologi dan cara kita mendefinisikan hubungan di era digital ini. Apakah hubungan dengan AI benar-benar dapat mendatangkan kedekatan emosional, ataukah itu hanya ilusi belaka? Di dunia yang semakin tersambung secara digital, pertanyaan ini semakin relevan.

About The Author

Leave a Reply