Smartwatch dan AI: Awasi Kesehatan Anda Sebelum Terlambat!

Smartwatch dan AI: Awasi Kesehatan Anda Sebelum Terlambat!

Smartwatch dan AI: Awasi Kesehatan Anda Sebelum Terlambat!

Jam tangan pintar dan perangkat wearable lainnya kini tak hanya berfungsi untuk menghitung langkah atau detak jantung. Inovasi terbaru memungkinkan mereka memantau berbagai aspek kesehatan seperti pola tidur, suhu kulit, dan bahkan kadar oksigen dalam darah. Dengan klaim besar dari perusahaan teknologi, tampaknya jam tangan pintar ini nyaris setara dengan alat medis futuristik dari Star Trek. Namun, seberapa akuratkah mereka dalam mendeteksi tanda-tanda awal penyakit?

Ketika jam tangan pintar mendapatkan persetujuan dari FDA untuk fitur kesehatan baru, sering kali disertai dengan kampanye pemasaran yang terkesan menjanjikan lebih dari yang sebenarnya. Misalnya, acara peluncuran Apple yang selalu menampilkan kisah heroik tentang bagaimana Apple Watch berhasil menyelamatkan nyawa. Bahkan menteri kesehatan di era pemerintah Trump ikut mengangkat tema ini, mengklaim teknologi wearable sebagai “kunci” untuk programnya.

Akankah semua hype mengenai teknologi kesehatan ini hanya basa-basi belaka? Ternyata, tidak sepenuhnya. Meskipun beberapa perangkat dapat menunjukkan tanda-tanda kemungkinan penyakit yang berkembang, jam tangan pintar umumnya tidak akan menggantikan diagnosis medis yang lebih mendalam. Beberapa fitur malah lebih berguna dibanding yang lainnya.

Apa yang Sebenarnya Bermanfaat?

Keunggulan utama perangkat wearable adalah kemampuannya untuk mendeteksi perubahan pola dari kebiasaan tubuh seseorang. Perceived outliers tersebut dapat mengisyaratkan perlunya pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter.

Salah satu contoh yang sudah terbukti adalah deteksi fibrilasi atrial (AFib), yaitu ritme jantung yang tidak normal yang dapat meningkatkan risiko stroke. Dalam sebuah studi mengenai Apple Watch, alarm detak jantung tidak teratur terkonfirmasi sebagai AFib dengan tingkat akurasi 84 persen. Hal ini menjadikannya salah satu fitur jam tangan pintar yang dianggap bermanfaat secara klinis oleh banyak dokter.

Untuk metrik “tingkat kepercayaan tinggi” lainnya, daftar itu cukup singkat. Para dokter menyatakan kepada The New York Times bahwa pola tidur dasar dan jumlah langkah adalah beberapa metrik yang lebih dapat diandalkan dari sudut pandang medis. Dengan kata lain, fitur yang bermanfaat secara klinis ini justru merupakan pengecualian, bukan aturan.

Mengetahui Batasan

Beberapa metrik lain dari jam tangan pintar tidak cukup akurat untuk dijadikan dasar keputusan medis. Misalnya, pemberitahuan tekanan darah, perkiraan kalori, serta pelacakan tahap tidur tidak dianggap cukup dapat diandalkan untuk dijadikan acuan oleh dokter. Selain itu, pengukuran VO2 max dan variabilitas detak jantung hanya memberikan estimasi kasar tentang kebugaran dan pemulihan. Metode seperti skor kesejahteraan harian dari Oura dan Whoop bergantung pada algoritma yang bersifat proprietary, yang meninggalkan sedikit informasi untuk para profesional medis.

Metode yang lebih dapat diandalkan pun kadang bisa menghasilkan false positive. Misalnya, lonjakan detak jantung saat istirahat bisa berarti tubuh sedang melawan infeksi, tetapi bisa juga disebabkan oleh kualitas tidur yang buruk atau konsumsi alkohol yang berlebihan.

Menggabungkan Data

Panjang sebelum seseorang menyadari gejala flu atau COVID-19, tubuh sudah mulai mengalami perubahan halus. Perubahan pada suhu kulit, detak jantung saat istirahat, atau pola pernapasan mungkin tampak tidak berarti bila dilihat secara terpisah. Namun, jika diakumulasikan dan dibandingkan dengan data baseline milik pengguna, perubahan tersebut dapat mengindikasikan adanya penyakit.

Penelitian menunjukkan bahwa perangkat wearable mampu mendeteksi perubahan fisiologis akibat infeksi pernapasan sebelum gejala muncul. Sebuah studi terbaru dari Texas A&M dan Stanford menemukan bahwa jam tangan pintar dapat mengenali tanda-tanda awal COVID-19 dan influenza dalam waktu hanya beberapa jam setelah terinfeksi. Peneliti memperkirakan bahwa mendorong orang untuk mengisolasi diri, menjalani tes, dan mencari pengobatan lebih awal dapat mengurangi penyebaran pandemi hingga 50 persen.

Perusahaan seperti Google, Oura, dan Whoop terus berinovasi dengan menghadirkan fitur pelatihan berbasis AI dalam aplikasi mereka, membantu pengguna memahami data yang terkumpul. Selain itu, ada juga fitur yang tidak disebut sebagai “AI,” seperti Symptom Radar dari Oura dan Vitals dari Apple yang mengumpulkan informasi dari berbagai sensor dan membandingkannya dengan baseline pengguna.

Meskipun analisis kesehatan berbasis AI dapat mendorong individu untuk mencari perawatan lebih awal, ada risiko bahwa mereka mengandalkan saran dari perangkat digital sebagai pengganti konsultasi dengan profesional medis. Baik data dari sensor mini di pergelangan tangan atau saran dari chatbot di ponsel, tetap tidak ada yang dapat menggantikan pemeriksaan kesehatan fisik secara rutin dengan dokter.

Di masa depan, perangkat wearable mungkin tidak akan mampu mendiagnosis penyakit dari pergelangan tangan pengguna. Sebaliknya, kita lebih mungkin akan melihat perangkat yang secara senyap memantau pola kesehatan dan memberikan peringatan ketika ada yang tidak beres, serta memberikan informasi berharga untuk dibahas dengan dokter.

Jangan lewatkan informasi penting lainnya di Teknonesia.com untuk tetap mendapatkan berita terbaru dan menarik seputar teknologi dan kesehatan!

About The Author

Leave a Reply